Dunia saat ini tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Arus globalisasi yang tak terbendung memberikan berbagai dampak perubahan dalam kehidupan umat manusia secara individu ataupun sosial masyarakat. Sejalan dengan berkembangnya teknologi, mengakibatkan terjadinya perubahan tata nilai dan budaya manusia ke arah tatanan kehidupan yang lebih bersifat rasional dan objektif. Manusia saat ini lebih mudah mengadopsi nilai-nilai baru menurut pikiran dan pertimbangan logis mereka dan mulai meninggalkan tata nilai atau budaya lama yang bersifat kolot dan kuno. Dahulu masih kita dapati kehidupan manusia yang sangat ‘tunduk’ dengan kondisi alam dan praktek-praktek budaya setempat, namun saat ini alam lah yang berhasil ditundukkan oleh manusia dengan canggihnya inovasi teknologi yang mereka lakukan hingga manusia kini memiliki peran sentral terhadap perubahan apapun yang terjadi di dunia. Manusia saat ini lebih bersifat dinamis terhadap perubahan-perubahan baru dalam kehidupan mereka. Pola interaksi dan komunikasi dunia yang semakin terbuka, ditambah pudarnya sekat-sekat antar negara sebagai ciri utama dari fenomena globalisasi juga turut memuluskan pergeseran tata nilai lama menuju tata nilai baru yang lebih canggih dan modern.

Semua perubahan itu tentu tidak lepas dari peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak pernah absen dalam melakukan inovasi baru. Kebaharuan dan kecanggihan kini menjadi nilai yang senantiasa dipromosikan guna menyelesaikan setiap masalah hidup umat manusia sepanjang zaman. Sektor-sektor penting dalam kehidupan manusia mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi, bisnis hingga perpolitikan negara pun tidak luput dari sentuhan teknologi-teknologi baru nan canggih tersebut. Peningkatan kualitas kerja dalam bentuk efisiensi dan efektifitvas menjadi sasaran utama penggunaan teknologi canggih di berbagai sektor. Tak terkecuali dalam sektor dakwah. Seiring dengan perkembangan teknologi khususnya teknologi komunikasi dan informasi, dakwah di era modern ini pun turut serta dalam melakukan inovasi yang kreatif. Pola dakwah konvensional saat ini secara perlahan mulai bergeser, beralih menuju dakwah yang aktif memanfaatkan berbagai macam media komunikasi dan informasi dengan kecanggihan yang ditawarkan. Belakangan ini, muncul fenomena menarik di negeri kita. Beragam bentuk media komunikasi dan informasi kreatif mulai secara aktif dimanfaatkan untuk menunjang kepentingan dakwah. Di media perfilman misalnya, kini mulai marak hadir film-film bernuansakan Islam, yang turut tampil dalam dunia per-bioskop-an Indonesia. Sebut saja yang terbaru film Syurga Yang Tak Dirindukan, data terakhir yang penulis dapatkan, melalui akun Twitter pribadinya, produser MD Pictures Manoj Punjabi mengatakan, film yang mengandung pesan islami itu telah mencapai 1,5 juta penonton di seluruh Indonesia dan berhasil masuk dalam jajaran Box Office. Menyusul film yang telah hadir lebih dulu seperti Assalamu’alaikum Beijing dan Emak Ingin Naik Haji buah karya anak bangsa Asma Nadia yang sarat akan pesan-pesan islam di dalamnya. Tak ketinggalan dengan film 99 Cahaya di Langit Eropa, Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, Negeri 5 Menara dan banyak lagi karya-karya perfilman islami lainnya yang telah berhasil mengoptimalkan kecanggihan media perfilman dalam dakwah, hingga akhirnya sukses menyita animo masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Baik lelaki atau perempuan, tua atau muda, paham atau awam, semua telah berhasil dicuri perhatiannya. Belum lagi kita berbicara fenomena dakwah Islam di media komunikasi dan informasi lainnya seperti media cetak (tulisan, novel, majalah) dan elektronik (foto, film, radio, televisi, internet) yang tengah digunakan oleh manusia abad modern, disana juga akan kita dapatkan beragam bentuk kreativitas para da’i dalam mengemas dan menyampaikan nilai-nilai religi Islami melalui karya-karya mereka. Namun, seberapa efektif kah dakwah kreatif dengan pemanfaatan beragam media saat ini?

Dakwah Kreatif sebagai Paradigma Baru, Dakwah Era Modern

Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat!“, demikian kalimat tegas yang keluar dari lisan Rasullah Saw. yang mulia. Seuntai kalimat yang sangat terkenal di tengah kalangan umatnya, menunjukkan betapa pentingnya urgensi dakwah Islamiyyah dan acapkali menjadi motivasi utama para da’i untuk tidak segan dan takut dalam menyampaikan ayat-ayat langit kepada setiap makhluk bumi, walaupun itu hanya satu ayat. Kalimat itu pun terus bergulir sepanjang zaman, menjadi ruh semangat para da’i dalam tataran praktisnya di lapangan. Berbagai macam cara ditampilkan. Dari zaman ke zaman. Memiliki ushlub atau metodenya sendiri.

Menelisik kembali sejarah dakwah Islamiyah yang telah terjadi sepanjang sejarah peradaban umat manusia secara garis besar, maka kita dapati fenomena perubahan yang cukup menarik. Di era kenabian, bermula dari turunnya titah dakwah pertama kepada Nabi Nuh As untuk umatnya hingga masa kenabian Rasulullah Saw, dakwah secara aktif disampaikan bi-al-lisan atau dengan metode perkataan atau ucapan. Penyampaian informasi dari pemberi dan penerima dilakukan dengan teknologi yang hadir di zaman itu, yaitu bahasa. Bahasa menjadi sebuah teknologi yang memungkinkan bagi para nabi untuk memberikan pemahaman Islam kepada umatnya. Seiring dengan berkembangnya teknologi bahasa, muncul beragam teknologi pelengkap untuk menyampaikan sebuah informasi utuh dalam bentuk gambar, huruf alfabet ataupun angka-angka arabik. Hingga sampai masanya, dakwah dengan teknologi bahasa mulai beralih kepada teknologi tulisan. Selepas wafatnya Rasulullah Saw di tahun 632 M, tepatnya pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, bersama para Sahabat kala itu mulai menaruh perhatian yang serius pada dakwah bi-al-qalam atau dakwah dengan tulisan. Penyampaian pesan-pesan Islam yang bersumber dari kitab suci Alquran, dirasa tidak efektif lagi jika hanya sekedar mengandalkan lisan, bahkan sudah sampai tahap sangat menghawatirkan karena adanya reduksi hingga bias informasi yang diterima seiring dengan semakin luas dan beragamnya mad’u atau objek dakwah yang menerima dakwah Islam masa itu. Maka kodifikasi ayat-ayat suci Alquran yang tertanam kuat di hati para sahabat pun di mulai. Bermodalkan tulang, batu dan pelepah kurma sebagai media alas, teknologi menulis di tengah kalangan para sahabat pun mulai aktif menggeliat. Penyebaran Islam semakin masif. Hausnya umat dari golongan arab ataupun ajam (non-arab) terhadap ilmu Islam, membuat semangat penggunaan teknologi menulis diteruskan oleh para da’i di era tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Mulai dari ilmu Alquran, hingga kodifikasi hadits dan ilmu-ilmu turunannya. Nama-nama da’i yang santir kita dengar di dunia Islam seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Syaf’i, Ibnu Hajar al-Atsqalani, Imam An-Nawawi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan da’i-da’i besar lainnya, di tangan mereka karya-karya besar yang memperkaya khazanah ilmu di dunia Islam terlahir dengan aktifnya mereka memanfaatkan teknologi penulisan dan penerjemahan ke beragam bahasa dunia saat itu. Puncaknya, dakwah Islam mendunia hingga mencapai dua pertiga daratan bumi ini.

Di era modern saat ini, terjadi banyak perubahan yang signifikan dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Perkembangan teknologi khususnya teknologi komunikasi dan informasi, menjadi karakteristik utama zaman yang kita ditakdirkan terlahir di dalamnya. Pesatnya kemajuan teknologi tersebut, ditandai dengan derasnya arus informasi yang diterima, membuat manusia saat ini menjadi sangat haus dengan informasi. Mesin pencari google menerima lebih dari 4 juta pencarian informasi di dunia setiap menitnya. Komunikasi silang negara sudah sedemikian mudah dan lumrah. Informasi sudah sangat mudah diproduksi dan didistribusikan. Setiap detiknya jutaan informasi-informasi baru selalu dimuat di bank data dunia. Hanya dengan menekan satu jari saja di atas tuts keyboard komputer, beragam informasi yang juga memuat beragam tata nilai asing di dalamnya bisa dengan mudah diterima dan dikonsumsi oleh jutaan hingga miliyaran umat manusia. Dari ufuk timur hingga ufuk barat dunia. Secara luas dan sangat cepat. Hingga dunia seperti terasa dalam satu genggaman.

Dalam konteks dakwah Islamiyyah, informasi memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai sarana untuk mendistribusikan nilai-nilai Islam kepada umat manusia. Informasi yang berkembang diharapkan membawa pesan-pesan kebenaran bukan malah pesan-pesan yang menyimpang dan menyesatkan. Untuk menghadapi itu, maka perlu adanya rekonstruksi pola dan sistematika dakwah yang dilakukan oleh para dai dalam menyampaikan pesan-pesan Islam (nasyrul fiqrah) di era modern saat ini. Mengubah pola lama yang terkesan sangat verbalistik-konservatif, beralih pada pola dan sistematika baru yang tampil lebih segar dan kreatif. Tidak hanya mencukupkan diri dengan berkhutbah di masjid/ mushola, kantor-kantor, sekolah dan lembaga formil lainnya. Tujuan sederhananya adalah agar dakwah Islamiyyah ini mampu bersaing. Memiliki daya saing yang unggul dibandingkan dengan seruan-seruan lainnya yang menyimpang dan menyesatkan, hingga akhirnya dakwah ini berhasil ‘mencuri’ perhatian umat manusia di dunia yang tengah mengalami panic attack menghadapi ledakan informasi-informasi baru yang semakin tak terbendung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *